Rabu, 21 September 2011

PEMANFAATAN LIMBAH BATUBARA SEBAGAI BAHAN DASAR ALTERNATIF UNTUK MATERIAL FURNITURE DENGAN PENGUJIAN SIFAT BENDING YANG DIPERKUAT SERAT BAMBU


Abstrak

Batubara sebagai sisa pembakaran di boiler menjadi limbah yang pemanfaatannya kurang optimal,, Hal ini dapat menjadi masalah lingkungan.Batubara sisa hasil pembakaran di Indonesia jumlah cukup banyak. Di satu pabrik pengolahaan biji kopi di daerah panjang (Bandar Lampung) menghasilkan limbah batubara tidak kurang 5 ton/hariL Salah satu cara pemanafaatan limbah ini adalah dengan menjadikannya sebagai alternatif bahan komposit yang diperkuat dengan serat bambu.
Limbah batubara sebagai hasil pembakaran di boiler dapat dibuat sebagai filler bahan komposit yang penggunaanya sebagai alternatif bahan furniture. Batu bara dari hasil pembakaran berupa bongkahan batu diolah menjadi partikel yang lebih halus, kemudian hasil pengolahaan ini dicampur dengan resin poliester sebagi bahan pengikat. Untuk menghasilkan produk yang lebih baik, campuran partikel batu dengan resin diperkuat dengan serat bambu. Serat bambu sebagai bahan penguat diuji dengan melakukan variasi arah serat yaitu arah lurus dan bersudut menyilang(45o).
Dari hasil pengujian variasi arah serat terhadap bahan komposit didapatkan serat bambu yang arah lurus lebik baik peningkatan kekuatan tariknya daripada serat bersudut dimana kekuatan bending maximum didapat 20,03 Mpa yaitu terjadi peningkatan kekuatan bending sebesar 84 % dibandingkan dengan bahan komposit tanpa serat bambu. Peningkatan kekuatan lentur serat lurus juga lebih baik daripada serat bersudut. Sedangkan peningkatan kekerasan serat bersudut lebih baik daripada serat lurus.

Kata kunci: Limbah batubara, Bahan komposit dan serat bambu


PENDAHULUAN

Populasi manusia yang sangat cepat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan akan aksesoris rumah tangga, perkantoran, dan lain-lain seperti kursi, meja, lemari dan kebutuhan lainnya dibidang furniture. Pertumbuhuan disektor furniture ini harus mendapat perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait. Karena setiap pemenuhan kebutuhan furniture harus didukung oleh tersedianya sumber material kayu sebagai bahan dasar furniture.
Sumber daya alam (kayu) sebagai material dasar furniture semakin lama semakin berkurang. Jika ekploitasi sumber daya alam ini terus dilakukan, suatu saat nanti akan habis dan akan menggangu keseimbangan alam. Sehingga pemenuhan kebutuhan furniture untuk jangka panjang perlu mendapatkan perhatian dengan mencari sumber lain pengganti kayu sebagai bahan dasar pembuatan furniture tetapi mempunyai harga yang relatif murah dan mutu sama atau lebih baik dari kayu.
Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan di atas adalah dengan memanfaatkan limbah batu bara sebagai bahan dasar atau bahan baku untuk pembuatan furniture.

Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan cara pembentukan bahan uji yang dibuat dari bahan powderampas batu bara dengan perekat resin. Ampas batu bara yang dimanfaatkan adalah dari hasil pembakaran boiler dari perusahaan.
Paduan antara powder batu bara dan perekat resin dibuat dengan komposisi campuran yang beragam (1:1, 1:2, 1:3, 1:4), juga direncanakan dibuat paduan powder batu bara dan perekat resin dengan komposisi sama yang di beri tulang sebagai penguat. Paduan yang telah dibentuk dicetak menjadi benda uji dengan ukuran 20 cm x 10 cm x 1 cm. Kemudian spesimen ini diuji dengan menggunakan beberapa metoda yaitu; uji kekerasan dan uji tekan(bending).
Jumlah spesimen yang dibuat sebanyak 72 spesimen. Metode yang dilakukan ini dianggap telah mewakili kondisi meterial furniture yang sebenarnya yaitu tahan air, tahan panas (matahari), tahan terhadap beban. Jumlah spesimen dan jenis pengujian dapat dilihat pada tabel 1.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Resin poliester tak jenuh, berfungsi sebagai matrik dalam komposit.
2. Powder ampas batubara dan serat bambu, berfungsi sebagai bahan penguat dalam komposit.
3. Katalis, berfungsi sebagai pengeras matrik komposit.

Alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Universal Testing Machine (UTM), digunakan untuk uji tekan.
2. Alat uji kekerasan Rockwell , digunakan untuk menguji kekerasan benda.
3. Cetakan, digunakan untuk mencetak benda uji.
4. Palu, untuk memecahkan hingga halus limbah batubara
5. Ayakan, untuk membuat variasi ukuran pertikel ampas batubatra.
6. Timbangan digital, digunakan untuk mengukur komposisi massa serat bambu.
7. Pengaduk, digunakan untuk mengaduk matrik dan powder ampas batubara sehingga mempunyai kontribusi yang seragam.
8. Gelas ukur, digunakan untuk mengukur perbandingan volume campuran antara resin dengan partikel limbah batubara.
9. Amplas, digunakan untuk menghaluskan benda uji.
10. Gergaji, digunakan untuk memotong bahan spesimen.
11. Gerinda, digunakan untuk membentuk spesimen sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
12. Jangka sorong, digunakan untuk mengukur dimensi spesimen.

Prosedur penelitian

Metode pelaksanaan penelitian yang dilakukan dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:
1. Pembuatan cetakan spesimen uji.
2. Rencana Persiapan pencampuran.
3. Pembuatan benda uji.
4. Pengujian dan analisa.
Berikut ini adalah geometri dari cetakan spesimen uji bending dan spesimen uji kekerasan dengan standar JIS Z 2204:


HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pengujian-pengujian yang telah dilakukan baik pengujian tarik, pengujian bending dan pengujian kekerasan maka diperoleh data-data hasil pengujian.
Pengeringan Limbah Batubara dan Serat Bambu
Pada proses pengeringan untuk limbah batubara dan serat bambu dilakukan secara alami yakni dikeringkan secara langsung pada terik selama enam hari dengan durasi lima hingga enam jam (jam 09.00 s.d 15.00 WIB



Tabel 2. Nilai pengurangan berat akibat pengurangan kadar air

Uji Bending Komposit
Pengujian bending ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan komposisi pada komposit yang diteliti terhadap kekuatan lentur/flectional strength. Pengujian tarik ini dilakukan berdasarkan standar tes pengujian JIS Z 2204,

Tabel 3. Hasil rata-rata pengujian bending




Fenomena uji kekuatan bending sama dengan fenomena uji tarik pada arah serat lurus dan menyilang, hal ini dipengaruhi oleh kekuatan tarik dan bending dipengaruhi oleh perbandingan gaya dan luas penampang benda uji. Pada arah serat menyilang factor penyusunan serat yang tidak homogen juga Sangat mempengaruhi sifat mekanik bahan komposit karena daya ikat resin menjadi tidak homogen yang menyebabkan di titik tertentu kemampuan bahan menahan beban menjadi berkurang..

Pegujian Kekerasan

Pada pengujian kekerasan komposit ini dilakukan dengan menggunakan metode Rockwell-L dengan ukuran indentor 1/4” dan pembebanan 588 N.

Tabel 4. Hasil pengujian kekerasan rata-rata

Pada pengujian kekerasan fenomena antara kekerasan komposit pada arah serat lurus dan menyilang ádalah sama yaitu kekerasan komposit bertambah sebanding dengan penambahan banyak serat. Begitu juga kekerasan serat yang ada pada komposit kekerasannya juga meningkat jika jumlah serat bertambah.

Pada tabel dan gambar di atas terlihat secara umum nilai kekerasan arah serat menyilang lebih baik jika dibandingkan arah serat lurus, hal ini disebabkan pada arah serat menyilang terjadi ikatan silang (cross link) yang lebih baik dibandingkan serat lurus. Ikatan silang ini menambah nilai kekerasan bahan komposit.


SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada benda uji komposit resin polyester yang diberi penguat partikell limbah batubara dengan serat bambu lurus dan menyilang, maka dapat diambil beberapa kesimpulan:
1.. Beban maksimum dan kekuatan lentur tertinggi terjadi pada komposit yang diperkuat serat lurus yaitu terjadi pada komposisi 60% : 36% : 4% sebesar 867,5 N dan 46,2 N/mm2 terjadi peningkatan 84 % jika dibandingkan tanpa serat bambo. sedangkan pada komposit yang berpenguat serat menyilang yang terbesar terjadi pada komposisi 60% : 397 % : 3% sebesar 650,67 N dan 43,27 N/mm2 meningkat 72 %.
2. Pada afflikasi penggunan komposit resin poliéster di lapangan yang diperkuat limbah batu bara dan serat bambu disesuaikan dengan kondisi beban yang banyak dialami. Untuk kondisi beban yang banyak mengalami beban tarik dan bending sebaiknya digunakan komposit yang diperkuat serat lurus, sedangkan material komposit yang banyak mengalami beban gesek sebaiknya digunakam komposit yang diperkuat serat dengan arah menyilang.
3. Masalah yang dihadapi pada pembuatan bahan alternatif material dari ampas batubara adalah cukup mahalnya harga resin pengikat dari bahan komposit tsb, disarankan pada penelitian lanjutan menggunakan bahan pengikat yang lebih murah.


Kamis, 24 Maret 2011

POLARIMETER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Menurut C. Huygen cahaya adalah gerak gelombang yang terpancar dari suatu sumber dalam semua arah. Cahaya termasuk dalam gelombang transversal, yaitu gelombang yang arah rambatnya tegak lurus arah getaran, sehingga cahaya dapat terpolarisasi.  Polarisasi adalah terserapnya sebagian arah getar cahaya. Cahaya yang sebagian arah getarnya terserap disebut cahaya terpolarisasi. Dan jika cahaya hanya mempunyai satu arah getar, maka disebut sebagai cahaya terpolarisasi linear.

1.2 Tujuan percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan konsentrasi larutan gula dengan
menggunakan polarimeter, sekaligus menentukan sudut polarisasi.

1.3 Permasalahan
Permasalahan yang dapat timbul dari percobaan ini adalah penampakan gelap dan terang pada polarimeter tidak sama persis untuk tiap percobaan. Disamping itu kita juga harus dapat menentukan konsentrasi gula berdasarkan sudut polarisasi dan suhu larutan.
1.4 Sistimatika laporan
Laporan ini dimulai dengan abstrak, kemudian dilanjutkan dengan daftar isi, daftar gambar, dan daftar tabel. Bab I berisi tentang pendahuluan, yaitu latar belakang, tujuan percobaan, permasalahan dan sistimatika laporan. Bab II adalah dasar teori, sedangkan Bab III adalah tentang peralatan dan cara kerja. Analisis data dan pembahasan diletakkan pada Bab III, sedangkan kesimpulan pada Bab IV. Terakhir adalah daftar pustaka.
BAB II
DASAR TEORI
Interferensi dan difraksi dapat terjadi pada semua jenis gelombang, misalnya gelombang bunyi, gelombang tali, gelombang pada permukaan cairan ataupun gelombang cahaya. Polarisasi hanya dapat diamati pada gelombang transversal.yang terdapat pada gelombang tali dan cahaya dan tidak terdapat pada gelombang bunyi, karena gelombang bunyi termasuk gelombang longitudinal.
Percobaan sederhana yang membuktikan bahwa cahaya adalah gelombang transversal yang paling mudah yaitu dengan menggunakan lempeng polaroid identis seperti yang digunakan pada kaca mata hitam. Setiap lempeng cukup transparan dan bila satu lempeng ditempatkan di atas yang lain , maka yang terlihat masih transparan. Tetapi bila salah satu diputar perlahan-perlahan daerah yang tumpang tindih akan menjadi gelap.
Berabad-abad sebelum penemuan lempeng polaroid, peristiwa tersebut diamati dengan menggunakan kristal tertentu yang secara alamiah seperti kalsit. Dalam kenyataan, Newton meninjau peristiwa ini sebagai bukti melawan teori gelombang cahaya karena setiap orang kemudian mengandaikan bahwa cahaya adalah gelombang longitudinal. Namun demikian tidak seorangpun dapat menjelaskan bagaimana intensitas gelombang longitudinal dapat terpengaruh dengan perputaran sesuatu di sekitar sumbu sejajar pada arah gerak gelombang.
Pada tahun 1817, F. Young merupakan orang pertama yang menunjukkan bahwa cahaya adalah gelombang transversal. Gelombang longitudinal hanya dapat bergetar satu arah, sedang gelombang transversal dapat bergetar pada berbagai arah yang terletak pada bidang yang tegak lurus pada arah gerak. Dalam suatu berkas cahaya yang tertutup, semua rentetan bergerak dalam arah lintang yang sama sehingga berkas tersebut dapat disajikan oleh amplitudo A.
Simpangan titik-titik pada tali tegak lurus dengan arah rambat gelombangnya. Ada gelombang yang simpangannya menjalar menurut bidang XOY (bidang vertikal). Ada juga gelombang yang simpangannya menurut bidang XOZ (bidang horisontal). Kedua gelombang tersebut mungkin resultan dari gelombang-gelombang yang arah simpangannya sembarang arah. Jadi gelombang transversal apapun dapat ditampilkan sebagai resultan dari dua komponen gelombang, yang satu hanya memiliki simpangan pada sumbu y, yang lainnya hanya ada pada sumbu z.
Gambar 1.1
a. Gelombang transversal terpolarisasi pada Y
b. Gelombang transversal terpolarisasi pada Z
Gelombang yang terpolarisasi pada sumbu Y disebut terpolarisasi linear pada sumbu Y. Gelombang yang hanya menyimpang pada sumbu Z disebut terpolarisasi linear pada sumbu Z. Supaya cahaya bisa terpolarisasi digunakan filter yang hanya meneruskan gelombang-gelombang pada arah polarisasi tertentu saja.
Filter polarisasi cahaya dikenal dengan nama polaroid. Polaroid digunakan pada kaca mata pelindung sinar matahari (sunglasess) dan pada filter polarisasi lensa kamera. Cara kerja polaroid berdasarkan prinsip penyerapan, yaitu meneruskan 80% atau lebih gelombang-gelombang yang terpolarisasi sejajar dengan sumbu polarisas, serta hanya melewatkan 1% atau kurang gelombang yang tegak lurus dengan sumbu polarisasi.
Dari uraian tersebut dapat didefinisikan bahwa polarisasi adalah terserapnya sebagian arah geter cahaya. Cahaya yang sebagian besar arah getarnya terserap disebut cahaya terpolarisasi, dan jika cahaya hanya mempunyai satu arah gelombang disebut cahaya terpolarisasi linear.
Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari cahaya yang tidak terpolarisasi. Yitu dengan menghilangkan (memindahkan) semua arah getar dan melewatkan salah satu arah getar saja. Ada empat cara untuk melakukan hal itu :
•Penyerapan selektif
•Pemantulan
•Pembiasan ganda
•Hamburan
Polarisasi dengan penyerapan selektif
Teknik yang umum dipakai untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan polaroid, yang akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar dengan sumbu polarisasi dan menyerap gelombang-gelombang pada
arah getar lainnya. Oleh karena itu, teknik ini disebut polarisasi dengan penyerapan selektif. Suatu polaroid ideal akan meneruskan semua medan yang sejajar dengan sumbu polarisasi dan menyerap semua yang tegak lurus dengan sumbu polarisasi.
Gambar 1.2
Pada gambar di atas tampak dua buah polaroid. Polaroid pertama disebut polarisator, dan polaroid kedua disebut analisator. Polarisator berfungsi untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi dan cahaya tak terpolarisasi (alami), sedangkan analisator berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya yang terpolarisasi.
Prinsip kerja sistem adalah sebagai berikut. Seberkas cahaya alami masuk melalui polarisator. Cahaya disini dipolarisasikan secara vertikal, yaitu hanya cahaya yang arah getarnya sejajar dengan sumbu polarisasi, sedang yang lainnya diserap. Cahaya yang terpolarisasi vertikal menuju analisator. Pada analisator, cahaya yang arah getarnya tegak lurus dengan sumbu polarisasi diserap. Dari analisator, cahaya yang terpolarisasi adalah cosθ dikalikan dengan polarisasi yang pertama.
Jadi analisator berfungsi mengurangi intensitas cahaya yang terpolarisasi. Intensiras cahaya yang diteruskan akan mencapai maksimum, jika kedua sumbu polarisasi sejajar, dan mencapai minimum jika kedua sumbu polarisasi saling tegak lurus.
Polarisasi dengan pemantulan
Jika cahaya menuju kebidang batas antara dua medium, maka sebagian cahaya
akan dipantulkan. Ada tiga kemungkinan cahaya yang terpantul yaitu:
•Cahaya pantul tidak terpolarisasi
•Cahaya pantul terpolarisasi sebagian
•Cahaya pantul terpolarisasi sempurna
ketiga kemungkinan diatas tergantung pada besaran sudut datang cahaya. Cahaya pantul tidak terpolarisasi jika sudut datang 00 (searah garis normal bidang batas) atau 900 (searah bidang batas). Cahaya pantul terpolarisasi sebagian jika sudut datang antara 00 sampai 900. Cahaya pantul terpolarisasi sempurna jika sudut datang mempunyai nilai tertentu (disebut sudut polarisasi).
Cahaya dapat diuraikan menjadi dua komponen arah getar. Yang satu sejajar dengan bidang (dinyatakan oleh titik) dan yang satu tegak lurus dengan komponen pertama (dinyatakan dengan panah). Ternyata komponen yang sejajar dipantulkan lebih kuat daripada komponen tegak lurus, hal ini dikatakan sinar pantul terpolarisasi sebagian.
Sinar datang kemudian dilambangkan dengan I, lalu diubah sampai sinar bias dan sinar pantul membentuk sudut 900, pada sudut ini ternyata sinar pantul terpolarisasi sempurna dengan arah getar sejajar dengan bidang. Sudut datang tersebut disebut sebagai sudut polarisasi.
Gambar 1.3
a. Sinar pantul terpolarisasi sebagian
b. Sinar pantul terpolarisasi sempurna
ip + 900 + r = 1800
r = 900 - I
Sin r = Sin (900 - ip)
Sin r = Cos ip
Jika cahaya datang dari udara (n=1) menuju bahan dengan indeks bias n, maka dapat
ditulis:
tan ip = n1
tan ip = n
Prinsip polarisasi pemantulan dimanfaatkan pada kaca pelindung sinar matahari dan lensa. Kaca mata pelindung sinar matahari dibuat dari bahan polaroid untuk mengurangi intensitas sinar pantul matahari (mengurangi kilau cahaya matahari).
Polarisasi dengan pembiasan ganda
Jika cahaya melalui kaca, maka cahaya lewat dengan kelajuan sama ke segala arah. Ini disebabkan kaca mempunyai satu indeks bias. Tetapi dalam bahan kristal tertentu seperti kalsit dan kuarsa. Kelajuan cahaya tidak sama untuk ke segala arah. Ini disebabkan kristal mempunyai lebih dari satu nilai indeks bias. Jadi cahaya yang lewat mengalami pembiasan ganda.
Jika seberkas sinar datang searah garis normal, maka sinar ini akan dibagi menjadi dua sinar. Sinar pertama diteruskan tanpa pembelokan disebut sebagai sinar biasa. Sinar kedua dibelokkan, dan disebut sebagai sinar istimewa. Peristiwa ini disebut sebagai polarisasi dengan pembiasan ganda.
Jadi polarisasi pembiasan ganda terjadi pada kristal yang memiliki lebih dari satu nilai indeks bias. Jika seberkas sinar datang searah dengan sumbu normal, maka akan dibagi menjadi dua, yaitu sinar biasa dan sinar istimewa.
Polarisasi dengan hamburan
Jika cahaya datang pada suatu sistem (misal. gas), maka elektron-elektron dalam partikel dapat menyerap dan memancarkan kembali sebagian dari cahaya. Penyerapan dan pemantulan kembali ini disebut sebagai hamburan. Hamburan inilah yang menyebabkan cahaya matahari mengenai pengamat di bumi terpolarisasi sebagian.
Hamburan jugalah yang menyebabkan langit tampak biru. Berdasarkan analisis tentang hamburan, untuk intesitas cahaya tertentu, intensitas cahaya yang dihamburkan bertambah dengan bertambahnya frekuensi. Karena cahaya biru mempunyai frekuensi yang lebih tinggi dari cahaya merah, maka cahaya biru dihamburkan lebih banyak dari cahaya merah.

BAB III
PERALATAN DAN CARA KERJA

3.1 Peralatan
1. Polarimeter
2. Lampu natrium dengan perlengkapannya
3. Thermometer
4. Gelas ukur
5. Gula pasir
6. Aquades dan pipet

3.2 Cara kerja
1. Dibuat larutan gula yang sangat encer dari aquades dan larutan gula pekat
kurang lebih 30 cc.
2. Dibuat larutan gula yang konsentrasinya setengah dari konsentrasi larutan
pertama.
3. Tabung porselin dibersihkan dengan air.
4. Tabung porselin diisi dengan aquades sampai penuh, diusahakan jangan
sampai timbul gelembung udara, kemudian tabung ditutup hingga rapat.
5. Tabung dimasukkan ke dalam polarimeter.
6. Analizer diputar hingga medan pandang yang nampak pada teropong gelap
semua.
7. Kedudukan sudut polarizer dapat dibaca pada skala polarimeter.
8. Percobaan dilakukan sebanyak 5 kali.
9. Langkah yang sama dilakukan hingga terlihat setengah terang, terang,
setengah gelap.
10. Suhu aquades diukur dengan menggunakan thermometer.
11. Langkah-langkah tersebut diulangi dengan menggunakan larutan gula
konsentrasi pertama dan kedua.
12. Tabung porselin dicuci hingga bersih
4.2 Pembahasan
Polarimeter adalah suatu alat yang menggunakan asas polarisasi, yaitu sebuah berkas sinar yang akan diteruskan oleh polarizer dalam berbagai bentuk sinar yang terpolarisasi. Sinar yang terpolarisasi bisa berbentuk polarisasi linear, polarisasi lingkaran dan polarisasi elips. Berkas sinar yang telah terpolarisasi akan diteruskan ke analizer. Analizer adalah penerima berkas sinar dari polarizer.
Prinsip kerja selengkapnya polarimater ditunjukkan oleh gambar berikut.
Gambar 4.1
Sinar natural yang masuk melalui polarizer (P), Setelah keluar sinar yang terpolarisasi linear tersebut akan melalui kolom larutan yang terdapat dalam tabung (T). Selanjutnya sinar diteruskan oleh analizer (A) dan setelah keluar ditangkap oleh mata pengamat (M). Apabila sumbu dari polarizer saling tegak lurus, maka tidak ada sinar yang diteruskan oleh analizer dan bayangan yang nampak oleh mata pengamat adalah gelap. Pada keadaan ini kedudukan sumbu-sumbu tersebut dilukiskan pada gambar berikut:
Gambar 4.2
Sumbu X adalah sumbu analizer dan sumbu Y adalah sumbu polarizer serta S1
menyatakan vektor-vektor sinar yang keluar dari polarizer.
Jika pada kedudukan di atas (T) kita isi aquades, maka ketika melalui larutan sinar tidak mengalami perubahan arah getar S1 dan bayangan akan nampak gelap. Dan apabila aquades kita ganti dengan larutan yang optis aktif maka arah getarnya S2 akan terputar.
Lambangθ menunjukkan besar serta arah perputaran vektor tersebut.
Komponen vektor ini sepanjang sumbu analizer adalah S2. jadi pada keadaan ini ada
komponen sinar yang diteruskan oleh analizer sehingga bayangan yang nampak akan
terang.
Agar bayangan menjadi terang kembali, maka analizer harus diputar sebesar sudutθ sehingga sumbunya X’. Pada keadaan ini X’ > S2 sehingga tidak ada komponen sinar yang diteruskan oleh analizer. Besar serta perputaran arah getar sinar di dalam larutan sama dengan arah dan besar perputaran analizer.
Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil percobaan adalah perbedaan asumsi bayangan gelap, terang, setengah gelap dan setengah terang. Faktor lainnya adalah kurangnya ketelitian dari praktikan. Untuk mengatasi hal ini maka dari tiap percobaan diambil rata-ratanya.

BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil analisa data percobaan maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
•Hargaθ dari aquades pada saat gelap adalah 0,1960
•Hargaθ dari aquades pada saat setengah gelap adalah 171,0680
•Hargaθ dari aquades pada saat terang adalah 84,220
•Hargaθ dari aquades pada saat setengah terang adalah 5,090
•Hargaθ dari larutan gula pertama pada saat gelap adalah 180
•Hargaθ dari larutan gula pertama pada saat setengah gelap adalah 181,050
•Hargaθ dari larutan gula pertama pada saat terang adalah 86,610
•Hargaθ dari larutan gula pertama pada saat setengah terang adalah 13,1480
•Hargaθ dari larutan gula kedua pada saat gelap adalah 17,370
•Hargaθ dari larutan gula kedua pada saat setengah gelap adalah 191,560
•Hargaθ dari larutan gula kedua pada saat terang adalah 94,560
•Hargaθ dari larutan gula kedua pada saat setengah terang adalah 24,80
θ mencapai harga terkecil pada saat bayangan gelap
θ mencapai harga terbesar pada saat bayangan setengah gelap
•Harga konsentrasi dari larutan gula pertama adalah 0,11 M
•Harga konsentrasi dari larutan gula kedua adalah 0,08 M

ABSTRAK
Suatu larutan dikatakan sebagai larutan optis aktif, apabila zat tersebut dapat memutar arah (bidang) sinar terpolarisasi linear. Salah satu larutan optis aktif adalah larutan gula. Dengan terlebih dahulu mengetahui suhu dan panjang tabung konsentrasinya dapat dihitung dengan mencari besar sudut polarisasi. Sudut polarisasi dapat dicari menggunakan polarimeter.